Showing posts with label architecture. Show all posts
Showing posts with label architecture. Show all posts

Friday, February 26, 2016

Transforming Lives - Human & Cities Seminar

Hari Kamis, 25 Februari 2016 kemarin, beberapa mahasiswa dari jurusan arsitektur dan desain interior Universitas Pelita Harapan menghadiri seminar Transforming Lives - Human & Cities di auditorium gedung BPPT 2, Jalan Mh. Thamrin, Jakarta.
Aku baru tahu ada seminar ini H-2 sebelum acara seminarnya, itu pun karena diajak teman satu studio. Untukku memang tidak wajib karena yang diwajibkan ikut hanya yang mengambil mata kuliah Arsitektur Perumahan (yang sudah aku ambil semester lalu) dan Studio Proyek Arsitektur B (aku mengambil Proyek Arsitektur A semester ini).


Photo © UPH




Karena acara seminar berlokasi di Jakarta maka tim dari UPH berangkat pukul 7 pagi dan baru sampai ke tempat seminar pukul 8.45 pagi pas banget 15 menit sebelum seminar dimulai. Tapi akhirnya seminarnya juga ngaret baru jam 9.20 dimulai. Yah biasalah kan budaya Indonesia..zzz..


Seminar ini diadakan oleh UPH - School of Design bekerja sama dengan jurusan Arsitektur UI, jurusan Planologi ITB, dan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia). Tujuannya adalah memberikan inspirasi dan insepsi bagaimana kota bisa berubah menjadi layak huni dengan mengutamakan warga kota agar bisa aman dan bahagia hidup di kota.


Ada 4 pembicara di seminar tersebut. Aku akan menjelaskan siapa mereka dan kesimpulan dari materi yang mereka jelaskan versiku. Jadi kalau ada dari kalian yang mengikuti seminar dan memiliki penangkapan berbeda dari materi yang dibawakan bisa juga menambahkan di kolom komentar yaa~


Sesi pertama ada 2 pembicara yaitu Ms Ame Engelhart dari Skidmore, Owings, & Merril LLP Associate (SOM) (linkedin : Ame M. Engelhart) & Mr. Michael King dari Nelson \ Nygaard Consulting Associates (linkedin : Michael King ) .




Photo © linkedin Ame M. Engelhart


Pembicara pertama yaitu Ms. Ame Engelhart adalah seorang arsitek dan urban planner. Beliau bekerja di SOM cabang kota Hong Kong selama hampir 20 tahun, dan pengalaman kerja secara keseluruhan dalam desain arsitektur, perencanaan kota, dan manajemen proyek sudah lebih dari 29 tahun.
Materi yang dibawakannya dalam seminar adalah tentang LIVABILITY.
Kesimpulan yang aku ambil dari hasil materi yang beliau bawakan adalah bagaimana kita menilai sebuah kota sebagai sebuah entitas kehidupan.
Ada sistem kehidupan di kota yang dapat menjadi pertimbangan utama untuk merancang kota yang lebih layak untuk kehidupan warganya. Untuk merancang sistem urbanisme berkelanjutan, menurut beliau yang harus menjadi dasar utama dalam perancangan adalah mempertimbangkan ekologi daerah setempat ditambah arsitektur yang telah ada dan membangun infrastruktur. Dari ketiga hal tersebut barulah mempertimbangkan pada bidang ekonomi untuk berkembang. Lalu kemudian ke bidang budaya.
Ekologi pada daerah setempat menjadi penting karena manusia butuh akses pada alam (untuk kebutuhan hidup dan relaksasi). Banyak orang Indonesia khususnya Jakarta yang mengira bahwa orang Indonesia malas jalan, tapi jika diberi fasilitas pedestrian yang baik maka akan membuat banyak penduduk lebih memilih untuk berjalan kaki. Lalu juga akses kepada alam perlu ada di dalam kota karena manusia butuh melihat hal-hal yang natural dan bisa diakses dalam 10 menit berjalan kaki. Taman pada kota juga dapat menaikan harga lahan di sekitarnya dan ini sangat bagus untuk bidang ekonomi.





Central Park, New York, USA
Photo © Pinterest


Kemudian pembangunan bangunan di dalam kota dan infrastuktur. Bangunan yang dibangun di dalam kota selayaknya dibangun tidak harus sama karena akan dirasa monoton tidak terlalu enak dilihat. Kepadatan pada kota bisa dimanfaatkan dengan menimbulkan banyak bangunan yang beragam. Dengan melihat suatu kota adalah sistem kehidupan maka pertimbangan ini akan membantu untuk mentransformasi kota menjadi tempat hunian yang baik bagi warganya.




Photo © Nelson Nygaard


Selanjutnya, pembicara kedua yaitu Mr. Michael King adalah "a designer of streets" desainer yang mendesain jalan penghubung pada kota. Beliau bekerja pada bironya tersebut di kota New York, USA. Sudah 20 tahun lebih berkarir untuk merancang jalan dan penghubung pada kota-kota seperti di New York, New Orleans, Buenos Aires, Bangkok, dll.
Materi yang dibawakan adalah BETTER STREETS, BETTER CITIES.
Kesimpulan yang aku ambil dari materi yang dibawakan oleh beliau adalah mengenai perancangan jalan yang baik di dalam kota sehingga penduduk dalam kota lebih senang untuk berjalan kaki dan lebih produktif sehingga mereka bisa lebih bahagia hidup di dalam kota.
Contoh kota yang dibahas dalam materi adalah yang memiliki sistem TOD (Transit-Oriented Development), di mana kota dirancang untuk berkembang sesuai dengan radius adanya infrastruktur transportasi. Jadi penduduk bisa mengakses transportasi dengan 10 menit berjalan kaki (sekitar 800 m) dan/atau 20 menit bersepeda (sekitar 5 km).
Cara yang paling utama adalah dengan TIDAK MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN KENDARAAN PRIBADI untuk pembangunan infratstruktur.
Jadi menurut beliau, dengan membuat jalan-jalan dengan lebar yang besar malah akan membuat penduduk lebih ingin menggunakan kendaraan pribadi. Dan juga dengan membangun area parkir juga membuat penduduk lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Contohnya cerita dari beliau bahwa di New York, keluarga beliau memiliki kendaraan pribadi namun hanya digunakan paling banyak 2 kali seminggu karena ketika membawa kendaraan pribadi yang beliau pikirkan adalah di mana akan parkir. Karena kalau parkir sembarangan maka dendanya cukup besar. Jadi lebih baik membuat jalan yang kecil dan nyaman untuk pedestrian menyebrang jalan.



Transformasi area perempatan jalan di Mexico City, Mexico, dari yang berfokus untuk kendaraan menjadi fokus untuk pedestrian Photo © Pinterest

Fokus utama adalah untuk membuat fasilitas pedestrian yang baik pada jalan.
Di mana beliau memberikan contoh percobaan pada jalan di beberapa kota dengan memberikan bollard sementara warna jingga itu untuk membuat area pedestrian lebih lebar di jalan. Banyak pedestrian yang menilai bahwa hal tersebut membuat mereka lebih nyaman untuk berjalan kaki sehingga mereka akan melewati jalan tersebut lagi dengan berjalan kaki.
Area pedestrian yang nyaman untuk 2 orang lewat adalah minimal lebar sekitar 1,5 m dan jika lebar menjadi 1,8 m itu akan lebih nyaman lagi. Kemudian dengan membuat rem untuk membuat nyaman pedestrian ketika ada perbedaan ketinggian.
Serta dalam perancangan kota butuh desain ruang yang baik untuk menentukan tempat penyebrangan pada perempatan karena banyak area ruang jalan yang tidak terpakai dapat dimanfaatkan untuk pedestrian.
Perancangan jalan penghubung pada kota yang mengutamakan pedestrian dibanding kendaraan pribadi akan membuat kota menjadi lebih baik, karena penduduk kota akan lebih memilih untuk berjalan kaki. Mereka pun akan semakin sehat, produktif, dan terhindar dari stress karena macet sehingga mereka menjadi bahagia karena kota mereka juga bersih dari polusi kendaraan.


Setelah 2 pembicara mengungkapkan materi mereka ada respon juga dari 2 orang ahli dari Indonesia, yang salah satunya adalah Bu Himasari, dosen ITB yang pernah ngajar mata kuliah Arsitektur Modern dulu. Seperti biasa dalam seminar pasti ada diskusi dan tanya jawab. Dan akhirnya mulai juga waktu istirahat makan siang.
Makan siang gratis siapa yang ga suka ? hahaha
Makanannya enak pulaaaa duhh pantes sih UPH eksklusif banget kalau ngadain acara ya :p


Setelah hampir sejam istirahat maka jam 1 siang mulai kembali sesi kedua dengan pembicara Mrs. Helle Søholt dari Gehl Architects dan Pak Alwi Sjaaf dari School Of Design UPH.




Photo © Gehl Architects


Pembicara ketiga yaitu Mrs. Helle Søholt adalah arsitek, urban designer, dan CEO dari biro arsitekturnya. Beliau bekerja di bironya di Copenhagen, Denmark, yang sudah berdiri dari tahun 2000.
Materi yang dibawakan adalah tentang LIFE BETWEEN BUILDINGS.
Kesimpulan dari materi yang dibawakan beliau adalah dalam perencanaan dan perancangan kota dan arsitektur kita harus berfokus pada kehidupan di dalamnya yaitu penduduknya.
Pendekatan dalam perancangan kota dan arsitektur adalah mengenai kehidupan (Life) lalu berkembang pada ruang yang dibutuhkan (Space) kemudian pada bangunan yang akan dibangun (Buildings). Menurutnya tujuan dari sebuah kota bukan menjadi kota terbaik yang dapat menjadi kebanggaan (Best City) tapi tujuan dari sebuah kota adalah untuk berbagi nilai kehidupan terbaik bagi penduduknya (Shared Value).
Dengan merancang kota untuk penduduknya, maka yang pertama kali dibutuhkan adalah dengan mengetahui penduduknya !
Perilaku (BEHAVIOUR) dan Kebutuhan (NEEDS) dari penduduk yang menjadi pertimbangan paling utama dalam perancangan.
Aktivitas global yang paling disukai oleh manusia adalah melihat manusia lainnya (People Watching). Maka dari itu penduduk butuh ruang publik pada kota yang dapat memfasilitasi aktivitas global ini. Kesannya lucu tapi emang bener sih. Dalam merancang ruang dalam kota juga kita harus memperhatikan social bubble. Jadi ada jarak antar interaksi manusia dan manusia lainnya.




Area pedestrian di kota Vienna, Austria yang menjadi tempat penduduk berkegiatan, jalan-jalan, atau sekedar nongkrong karena manusia adalah makhluk sosial yang senang berinteraksi.
Photo © Pinterest


Untuk membuat ruang kota yang nyaman bagi penduduk maka harus mempertimbangkan untuk mengumpulkan, mengintegrasi, mengundang, dan membuka diri agar penduduk bisa berkegiatan dengan nyaman dan membuat kota menjadi lebih hidup. Contohnya pada desain fasad di mana bangunan memiliki desain fasad yang terbuka langsung ke area jalan dengan beragam desain dapat mengundang orang untuk datang berkegiatan di tempat tersebut sehingga kota menjadi lebih membahagiakan. Hal ini juga dipengaruhi oleh pandangan manusia di mana pandangan manusia secara umum melihat fasad lantai satu bangunan dan lantai bangunan tempat mereka berjalan melewatinya.
Menjadikan perilaku dan kebutuhan penduduk untuk pertimbangan perancangan kota akan membuat kota menjadi layak huni dan membahagiakan untuk penduduk.


Photo © Lippo Karawaci


Selanjutnya pembicara terakhir yaitu Pak Alwi Sjaaf. Beliau adalah Senior Advisor untuk School Of Design UPH, arsitek dan desainer interior.
Dalam materi yang dibawakannya, Beliau ingin memberikan insepsi kepada peserta seminar untuk bermimpi dan mewujudkan kota yang baik dan layak huni bagi penduduk Indonesia.


Macet (yang sudah pasti bikin stress) di Jalan MH Thamrin, Jakarta pas depan gedung BPPT tempat seminar kemarin.
Photo © Pinterest


Masalah kota yang diangkat tentunya dari Ibu Kota Jakarta. Dengan banyaknya masalah kota Jakarta adalah contoh buruk memang tapi dengan rasa keinginan kuat untuk merubahnya menjadi lebih baik dari para praktisi arsitek, akademis, urban planner, developer, pemerintah, dll yang bisa mengusahakan untuk mewujudkan kota menjadi lebih baik semoga dalam beberapa puluh tahun ke depan kita akan melihat kota-kota di Indonesia bisa layak huni dan memberikan kehidupan yang baik bagi penduduknya.


Setelah kedua pembicara ini selesai mengungkapkan materi mereka maka ada diskusi dan respon juga dari 2 ahli dalam negeri. Salah satu ahli yang merespon adalah Pak Baskoro Tedjo (dosen ITB juga) yang dengan kocaknya memberikan respon dengan cerita yang pernah beliau bawakan di mata kuliah Perilaku Lingkungan dulu. Tentang respon yang terjadi karena stimulus, dan jenis respon yang terprediksi dan tidak diprediksi. Juga cerita tentang fungsi Taman Lansia, Bandung yang membuat semua peserta seminar tertawa. Pak Baskoro ini emang kocak banget sih. =))


Penilaianku dari seminar ini adalah seminarnya sangat menarik ! (dan catering makan siangnya enak hahaha~)
Melihat beberapa kasus dan proyek dari luar negeri, memberikan pengetahuan padaku bahwa kota-kota di luar negeri sana yang kita lihat sudah sangat baik saat ini juga melewati proses yang sama dari kondisi kurang layak menjadi layak huni dan membahagiakan penduduknya.
Memberikan harapan juga pada kota-kota di Indonesia untuk sama seperti itu.
Sayangnya saat ini para ahli dalam urban planning dan arsitektur, pemerintah, dan developer masih berjalan sendiri-sendiri. Semuanya masih mengutamakan kepentingan masing-masing.




Taman film di bawah jalan layang Pasupati, Bandung yang dulunya cuma tempat kumuh ga kepake sekarang sudah jadi ruang terbuka publik yang bisa dimanfaatkan untuk nobar film atau pertandingan sepak bola.
Photo © Pinterest


Yang memberikan titik cerah adalah kota Bandung (yay..kota kelahiranku~).
Mungkin karena walikota Bandung saat ini, Pak Ridwan Kamil adalah arsitek dan urban planner sehingga bisa memberikan perubahan signifikan untuk fokus kepada penduduknya agar dapat membuat kota menjadi layak huni, memberikan keamanan dan kebahagiaan bagi penduduk, serta menaikan taraf hidup warganya.


Semoga hal tersebut juga dapat terjadi pada kota-kota di Indonesia lainnya. Sehingga taraf kehidupan warga Indonesia juga naik dan penduduk Indonesia bisa lebih bahagia dan bangga menjadi warga kota di Indonesia.


Semoga menginspirasi~







Saturday, February 20, 2016

Muara Baru-Jakarta Slums Observation Project

Observasi wilayah pemukiman kumuh di tepi laut Jawa yaitu di daerah Muara Baru, Jakarta. Proyek ini bagian dari mata kuliah Arsitektur Berbasis Komunitas yang aku ikuti di semester ini. Sebelum bercerita mengenai detail proyeknya, mari kepo dulu tentang apa sih arsitektur berbasis komunitas itu ? dan kenapa harus cape-cape pergi ke pemukiman kumuh begitu ?




Muara Baru, Jakarta Utara, DKI Jakarta


Arsitektur berbasis komunitas adalah proses untuk membawa keahlian profesi arsitek ke dalam komunitas, untuk memfasilitasi proses pada komunitas dalam membuat elemen fisik untuk komunitas tersebut sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupan mereka.
Menurutku arsitektur berbasis komunitas sangat menarik untuk memberi tahu masyarakat bahwa keahlian arsitek bukan hanya dapat mendesain bangunan yang besar, menarik, mewah, dan hanya untuk orang kaya saja. Tetapi keahlian arsitek juga dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.


Kenapa arsitek harus berperan dalam kehidupan masyarakat ?
Jawaban pertanyaan tiap orang akan sangat subjektif dalam hal ini. Namun banyak masyarakat khususnya kalangan ekonomi bawah di mana mereka butuh sesuatu tapi mereka tidak menyadarinya atau pun tidak dapat mengetahui apa yang benar-benar mereka butuhkan untuk menaikan taraf hidup mereka. Maka dari itu arsitek yang memiliki keahlian mendesain ruang dapat memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat dengan memberikan pendekatan desain untuk mewujudkan apa yang masyarakat butuhkan. Pekerjaan ini lebih ke arah kerja sosial. Jadi butuh keikhlasan dan keinginan besar untuk membantu masyarakat.


Aku sangat tertarik dalam bidang ini karena aku sadar bahwa manusia butuh kerja sosial. Banyak manusia tanpa sadar sebenarnya sudah melakukan kerja sosial dalam hidupnya untuk motif tertentu. Kalau aku merasa butuh kerja sosial untuk mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang sudah aku dapat. Apalagi saat ini aku masih mahasiswa dan secara penuh masih dibiayai orang tua. Aku masih belum bisa memberikan sedekah dalam bentuk uang atau masih merasa bahwa uang tersebut bukan hasilku, jadi aku lebih senang bersedekah dengan membagi ilmu. Karena ilmu tidak akan hilang begitu cepat seperti uang dan dapat bermanfaat besar nantinya. Jadi saat aku butuh bersedekah maka dengan cara membantu masyarakat dengan pendekatan desain arsitektur adalah jawaban untukku.


Mari kembali ke proyek !!
Proyek ini sebenarnya adalah bagian dari proyek besar salah satu firma arsitektur & urban planning nirlaba dari USA yaitu Utopia (bisa cek websitenya di sini : http://www.utopiacities.org/)
Mereka fokus ke dalam arsitektur berbasis komunitas dengan memberikan solusi desain untuk pemukiman kumuh di seluruh dunia. Salah satu proyek mereka adalah untuk membantu memberikan solusi desain di daerah pemukiman kumuh di Muara Baru, Jakarta. Bekerja sama pula dengan Berkeley University of California dalam merancang kembali area tersebut. Karena proyek ini adalah kerja sosial maka tentunya dana pun terbatas. Utopia pun mengikut-sertakan para mahasiswa (yang kepo akan pengalaman dan sudah aman hidupnya) untuk berperan dalam desain. Untuk mahasiswa di Berkeley University of California mereka lebih fokus ke desain namun mereka butuh data dan foto daerah Muara Baru untuk dianalisa. Maka dari itu Utopia juga meminta bantuan dari jurusan arsitektur Universitas Pelita Harapan di Indonesia untuk mengobservasi tempat tersebut.


Untungnya di studio perancangan arsitektur 3 yang aku ikuti semester lalu adalah di Muara Baru (bisa cek proyeknya di sini : Muara Baru Public Housing)
Karena sudah tau lokasinya maka di hari kuliah pun diambil untuk mengobservasi kembali daerah Muara Baru, Jakarta. Observasi yang dilakukan hampir sama seperti yang biasa dilakukan saat survey lahan tempat proyek yang akan dibangun. Namun kali ini lebih berfokus pada data kualitas dengan mewawancarai penduduk di daerah tersebut. Observasi ini dilakukan oleh 11 mahasiswa (aku salah satunya) dan 2 dosen yang menjadi mentor kami.




Tempat parkir perahu nelayan di sebelah Pemukiman di atas laut


Sesampainya di sana setelah minta izin pada Ketua RT setempat maka kami pun berkunjung mengelilingi daerah tersebut ditemani Ketua RT nya yaitu Pak Nur.
Pada awalnya aku berkunjung masih membawa perspektif dari diriku bahwa tempat tersebut sangat kotor, bau, dan ga layak jadi tempat berhuni. Rumah semi permanen dibangun dengan material kayu dan bambu di atas laut dengan di bawahnya terlihat sekali bahwa air lautnya penuh limbah dan sampah. Material kayu yang ada di koridor juga dipasang seadanya. Dari cerita warga bahwa sering ada anak kecil terjatuh atau kakinya jadi masuk ke sela-sela kayu yang terpasang dan bahkan ada yang tercebur ke laut. Sedih, miris, prihatin, dan kasihan.




Koridor antar rumah




air laut + sampah




Juga banyak sampah-sampah dari hasil memulung langsung dibuang ke laut di bawah pemukiman. Sehingga air laut menjadi tercemar dan bau. Apalagi kalau sedang musim kemarau daerah tersebut cukup bau ditambah bau dari pasar ikan Muara Baru yang berada disebelahnya.


Setelah berkeliling sebentar dan masih memakai "kacamata" dari dalam diriku, aku pun berkesempatan ikut mengobrol dengan warga setempat. Dari hasil wawancara anehnya mereka bilang mereka sudah merasa nyaman tinggal di tempat tersebut. Aneh kan ?? Entah apa motifnya mungkin mereka ketakutan akan digusur dari tempat tersebut atau mereka saking sudah terbiasanya maka mereka merasa tinggal di tempat tersebut adalah sebuah kenyamanan.


Kami yang ikut berbincang menerima cerita-cerita mereka dan pendapat mereka tentang masalah pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan perumahan. Keempat bidang tersebut menjadi topik utama dalam perbincangan kami. Dan karena tidak ingin terlalu formal jadi sebenernya seperti ngobrol-ngobrol biasa namun kami sisipkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dari 4 bidang tersebut.


Dari hasil wawancara, keempat bidang tersebut saling berkaitan. Mengenai pekerjaan, kebanyakan dari warga bekerja sebagai nelayan dan penjual ikan di pasar ikan. Jika tidak sedang pergi ke laut karena cuaca (apalagi musim hujan di mana angin barat muncul) maka mereka bekerja menjadi pemulung. Bagi yang memiliki nasib baik biasa jadi pedagang toko kelontong, tukang cuci, atau tukang ojek (karena bisa beli motor).
Sedihnya adalah pada masalah pendidikan, banyak dari warga merasa pendidikan kurang begitu penting karena untuk makan saja sulit bagaimana dengan biaya pendidikan ? Mereka pun mengaku bahwa mereka tidak mau memberikan pengharapan lebih kepada anak mereka untuk belajar lebih tinggi karena takutnya mereka tidak dapat membiayai sekolah anak mereka. Namun sebagian ada yang mengaku bahwa saat ini sudah lebih baik karena mereka dapat menyekolahkan ya minimal sampai SMP.
Untuk masalah kesehatan dan sanitasi, jika sakit mereka lebih memilih membeli obat di warung yang murah dibanding harus ke rumah sakit. Kalau sudah parah banget baru ke puskesmas itu juga jauh banget puskesmasnya katanya naik bajaj bisa ampe Rp 25.000,- sekali jalan. Sanitasi di rumahnya juga seadanya dan air menjadi komoditas yang sangat mahal maka dari itu untuk MCK mereka harus membeli air seharga Rp 15.000 se drum/20 liter.
Karena rumah di atas laut kebayang dong WC nya gimana ? Semua hasil buangan langsung menuju ke laut di bawah rumah mereka.
Jangan dibayangin pokoknya jangan dibayangin..heuugghh




pemukiman semi permanen bersebelahan langsung dengan pemukiman permanen


Ketiga bidang di atas semuanya berhubungan dengan bidang keempat yaitu perumahan.
Ya rumah mereka menjadi masalah utama. Mengetahui dari cerita bahwa rata-rata mereka adalah orang-orang pendatang dari wilayah lain di Indonesia, seperti ada yang dari Serang-Banten, Indramayu-Jawa Barat, Cirebon-Jawa Barat, Poso-Sulawesi Tengah, Bima-Nusa Tenggara Barat, dll. Kebanyakan juga adalah yang dari kecil sudah berada di sana karena ikut orang tua.
Alasan pindah dan menetap di sana adalah karena mencari pekerjaan. Mereka pun rata-rata menghuni rumah yang dimiliki orang tua mereka terdahulu atau membeli dengan harga amat sangat murah dari pemilik terdahulu. Meskipun mereka memiliki latar belakang budaya yang berbeda tapi mereka dapat hidup sangat rukun. Pak Nur selaku ketua RT pun bercerita bahwa jarang ada masalah antar warganya dan yang lebih penting bagi mereka adalah kehidupan bermukimnya. Seperti warga lebih tanggap bencana, jadi kalau ada air laut pasang datang hingga banjir masuk rumah maka warga sudah mengerti harus melakukan apa, dan jika terjadi kebakaran pun warga tidak langsung panik menyelamati diri sendiri tapi aktif langsung membantu memadamkan api.
Pak Nur juga cerita bahwa jika ada masalah biasanya langsung diselesaikan di tempat dan jika ada masalah kecil harus segera dihilangkan dan masalah besar diselesaikan menjadi lebih kecil sampai akhirnya pun harus hilang. Mungkin karena mereka merasa bernasib sama maka dari itu di antara mereka sudah banyak kemakluman dan rasa gotong royong pun terbentuk dalam hidup bertetangga. Namun sayangnya pemukiman mereka sangat tidak layak karena bidang lain dalam kehidupan mereka (pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan) terganggu.


Pembelajaran untukku dari wawancara yang dilakukan adalah mengetahui sudut pandang yang baru. Di mana pada awal aku datang untuk observasi yang ada di pikiranku adalah penilaian tentang tempat tersebut padahal ada cerita lebih dalam dari perspektif lain yang belum aku ketahui. Dari tahu akan cerita yang ada maka menambah titik terang akan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang ada di pemukiman tersebut.


Untuk memberikan solusi desain arsitektur kepada komunitas seperti di pemukiman di Muara Baru tersebut, tidak dapat dengan ujug-ujug memberikan hasil desain yang sudah jadi dan membangunnya untuk langsung dipakai. Tapi solusi desain diwujudkan dengan partisipasi masyarakat, fungsinya adalah untuk membangun rasa kepemilikan dan menginsepsi masyarakat untuk mengubah cara hidupnya menjadi lebih baik. Karena mendesain bangunan dan membangun bisa dilakukan siapa pun, tapi merawat agar tahan lama membutuhkan usaha luar biasa.




klien arsitek komunitas adalah masyarakat


Maka dari itu proyek arsitektur untuk komunitas biasanya membutuhkan waktu lama. Bukan masalah dana tetapi masalah proses desain dan pembangunannya membutuhkan partisipasi masyarakat yang terdiri dari banyak kepala itu sangat membutuhkan waktu. Ada yang bisa sampai 3 tahun baru dapat terbangun dan berfungsi dengan baik, atau untuk yang sampai dapat meningkatkan taraf kehidupan bisa sampai 10 tahun menurutku.


Semoga hasil observasi dari tim kami dapat bermanfaat untuk proses desain tim Utopia & mahasiswa Berkeley University of California sehingga hasil desain bukan hanya sekedar menjadi bangunan saja tapi bisa menyelesaikan masalah masyarakat pemukiman kumuh Muara Baru - Jakarta sampai ke akarnya.


Semoga menginspirasi~





Saturday, February 13, 2016

Free Architecture Books at School Of Design

Hal yang paling bikin happy bulan ini adalah karena jurusan arsitektur di School of Design UPH memberikan buku gratis untuk umum. Buku tersebut disediakan di depan kantor baru School of Design UPH di lantai 2, gedung B UPH Karawaci. Sesuai tulisan di atas lemari bukunya, penyediaan buku gratisnya hanya untuk di bulan Februari 2016.


*sst..ini beberapa buku yang ga sengaja keambil kok*


Semua buku gratisannya dari penerbit UPH dan penulisnya pun ada dari dosen sampai mahasiswa. Seperti buku tahunan mahasiswa arsitektur yaitu Archive, yang berisi karya proyek studio yang terpilih dari tahun tersebut. Aku ingin sekali punya Archive yang satu bukunya bisa sampai Rp 100.000,- ++. Dengan disediakan secara gratis, tentu saja aku seneng banget bangeeeeeeeettt Jadinya karena kalap semua buku Archive dari tahun 2007-2012 aku ambil semuanya muhahaha.


Yang mengambil bukunya bukan hanya mahasiswa arsitektur saja. Tapi banyak juga khalayak umum, seperti siswa UPH college yang saat pulang se-angkot sama aku keliatan abis ngambil banyak buku gratisan juga dari sana. Jadi memang ya kalau tertarik bisa ambil aja langsung.


Cuma sesuai dengan saran Pak Stanley, Ketua Jurusan Arsitektur UPH, Bukunya lebih baik disimpan untuk dibaca dan dijadikan referensi bukan sekedar jadi bahan bacaan macam brosur yang abis baca langsung buang. Karena berguna banget buatku maka buku yang aku ambil akan menjadi tambahan koleksi juga di lemari bukuku.


Terima kasih untuk yang ngasih buku gratisan~


Yay Buku Baru !!





Tuesday, February 9, 2016

StuPA A : Condominium and Mall Project (Part 1)

Semester ini aku mengambil studio proyek arsitektur A yang berfokus kepada perancangan bangunan tinggi. Program pada bangunannya tidak hanya satu fungsi saja tetapi bisa dua fungsi atau lebih yang ada di dalam satu bangunan, bangunan seperti ini disebut Mix-Use Building. Karena fokus proyek ini mengenai perancangan bangunan tinggi maka dari itu aku merancang satu bangunan yang terdiri atas podium dan tower.


Untuk proyek yang aku lakukan, pada awalnya dilakukan penentuan di mana lahan yang akan dilakukan pembangunan di atasnya, baru kemudian dianalisa program apa saja yang cocok untuk disediakan di lahan tersebut. Aku memberikan opsi 3 lahan yang aku temukan di daerah Scientia-Summarecon Serpong, Jalan BSD Raya Utama-depan bangunan Forest Office Loft, dan satu lagi di belakang Summarecon Mall Serpong. Dari ketiga lahan tersebut aku analisa lebih dalam mulai dari analisa makro, analisa mikro kawasan dengan radius 5 km dari lahan, serta analisa lahan dan daerah sekitarnya yang berbatasan langsung.




*analisa lahan terpilih di belakang Summarecon Mall Serpong*


Terpilihlah lahan yang paling potensial adalah yang di belakang Summarecon Mall Serpong. Karena akses ke tempat tersebut cukup mudah dari mana saja. Lokasi yang sudah ramai dan berada di Jalan utama di mana area komersial, area perkantoran, dan area residensial sudah sangat ramai. Dari hasil analisaku juga program pada bangunan yang akan dirancang adalah untuk kondominium pada tower dengan Mall yang berhubungan langsung dengan SMS 2, aku menyebutnya SMS 3 hahaha.


Konsep yang aku ambil untuk proyek kondominium ini adalah URBAN FOREST. Jadi aku ingin tempat ini menjadi tempat kehidupan kaum urban yang dapat merasakan nuansa alam di ruang yang dirancang. Karena manusia secara natural butuh hidup berdampingan dengan alam. Maka dari itu konsep dipilih untuk memberikan fasilitas tersebut kepada pengguna ruang.






Untuk inspirasi yang menjadi preseden sendiri aku mengumpulkannya sesuai dengan konsep Urban Forest pada board berikut, :






Pada saat ini proses pra-rancangan masih berlangsung.
Karena masih menentukan akses, zona fungsi ruang, dan bentukan massa untuk nantinya dipresentasikan pada tanggal 23 Februari 2016 mendatang.


Semoga prosesnya lancar, mohon do'anya~





Wednesday, December 16, 2015

Public Housing in Muara Baru Fishery Park - StuPA3 Project



©DoreneEvelyn


Haiii semuaaaaa~~
Sudah hampir lima bulan ga bikin postingan di sini.
Banyak rencana tulisan tapi semua hanya menjadi draft di notes ku saja hahaha. Maklum kuliah sibuknya kebangetan ampe napas aja jadi napas senen-kemis saking sibuknya.


Semester yang baru saja selesai ini aku mengambil studio perancangan arsitektur 3 serta beberapa kuliah tambahan di mana ada 2 kuliah tambahan yang cuma 3 sks tapi bebannya udah kayak ngambil studio. Jadi kayak ngambil 3 studio di dalam satu semester, nah gimana gak sibuknya kebangetan.


Udah gitu juga semester ini banyak tugas yang dikerjakan berkelompok. Jadinya semester ini menjadi penuh drama, entah antara diri sendiri dengan orang lain, maupun melihat konflik antar manusia di dalam studio. Awkward lah pokoknya. Tapi dengan banyaknya konflik maka jadi banyak pembelajaran. Khususnya untukku, aku jadi bisa mengenal pribadi orang lain dan juga bisa mengenal diri sendiri kalau berkonflik dengan orang lain. Dengan konflik juga selain menjauhkan yang ga cocok, bisa mendekatkan pula yang ga cocok. Aneh memang tapi begitulah hidup.


Di semester ini aku pun belajar bahwa dalam satu kelompok tidak bisa ada 2 kepala. Maksudnya akan runyam jika ada 2 orang yang punya ide dan jadi menguasai. Maka dari itu aku lebih pasif di semester ini, karena aku malas berkonflik apalagi dengan teman-teman studio yang masih muda 5 tahun dariku. Kebayang dong...masa aku berantem sama anak kecil ? :p
Jadinya aku super mengalah, hal yang sangat sulit buatku, tapi mungkin memang ini pelajaran bagiku agar tidak selalu merasa diri sendiri harus mengatur semuanya. Pelajaran juga untuk mempercayai orang lain serta untuk tidak terlalu mendominasi dalam pekerjaan dan juga hubungan.


Oke selesai curhatannya..


Kembali ke tema dari postingan ini yaitu project yang aku kerjakan di studio perancangan arsitektur 3 yaitu kawasan Muara Baru Fishery Park atau Taman Rekreasi Perikanan Muara Baru. Lokasi kawasan terletak di daerah Muara Baru, Jakarta Utara.
Studio kali ini memang mengambil tema rancang kota. Jadi lahan yang dirancang lumayan besar. Untuk lahan di Muara Baru ini saja luasannya sekitar 6 hektar. Tujuan perancangan ditentukan oleh tiap masing-masing kelompok setelah observasi langsung ke lahan dan menganalisanya.






maket bentukan massa bangunan pada kawasan, skala 1 : 200


Untuk kelompokku sendiri merancang kembali lahan ini bertujuan untuk menjadikannya sebagai kawasan rekreasi perikanan di mana terdapat pasar ikan besar di bagian Utara kawasan. Di dalamnya akan terdapat area pemancingan dan restoran tepi laut yang setelah membeli ikan segar bisa langsung dimasak lalu dimakan sambil menikmati pemandangan Laut Jawa.


Selain pasar ikan, program di dalam kawasan juga menyediakan Rusunami Muara Baru yang dapat menampung 1000 unit hunian untuk 1000 kepala keluarga yang sudah bermukim di lahan yang ada saat ini. Lalu juga ada area foodcourt + restoran + amphitheater + fasilitas lapangan olahraga (mini soccer) + gedung parkir kawasan seperti area Benton Junction, Karawaci gitu untuk interaksi publik. Serta ada fasilitas hotel bintang 3 dengan banyak ruang pertemuan untuk bisnis karena kawasan ini dekat dengan area industri. Semua program tersebut disatukan oleh groundscape yang mengambil tema The Overlapping Activities. Di mana setiap program saling tumpang tindih untuk memiliki hubungan satu sama lain sehingga terdapat sirkulasi menerus dan mudah untuk menuju ke setiap program di dalam kawasan. Tema tumpang tindih ini diwujudkan dalam zona peletakan program dan jalur sirkulasi antar program.




Kawasan Muara Baru Fishery Park, maket skala 1 : 200



Penjelasan di atas adalah tentang proyek besar kawasan yang dikerjakan satu kelompok besar. Untuk proyek kecilnya yang dikerjakan per 2 orang adalah proyek program-program yang ada di dalam kawasan. Aku dan temanku, Dorene, mendapat proyek program yaitu Rusunami Muara Baru.




Rusunami Muara Baru Fishery Park - Jakarta, maket skala 1 : 200

Keberadaan suatu kawasan kota tidak lepas dari manusianya. Adanya kota, karena adanya manusia yang menghuni. Maka dari itu fasilitas hunian perlu ada di dalam kawasan. Melihat dari area Muara Baru di mana saat ini masih menjadi pemukiman kalangan menengah ke bawah yang cukup padat. Jadi dibutuhkan hunian yang layak untuk menampung mereka. Dari data yang didapat terdapat 1000 KK yang terdaftar di daerah tersebut. Dan dengan luas area zona hunian yang ditentukan sangat kecil (52 m x 200 m) maka diputuskan untuk merancang collective housing yaitu Rusunami (Rumah Susun Sederhana Milik). Untuk memfasilitasi 1000 unit hunian maka hasil rancangan terdapat 4 bangunan yang memiliki ketinggian berbeda dari 12 lantai, 14 lantai, 16 lantai, sampai 18 lantai. Bentuk keseluruhan didapatkan dari skyline area tersebut yang mengikuti Rusunawa yang telah ada di bagian Barat dari lahan.




hasil bentukan massa bangunan

Rusunami yang dirancang tidak lepas dari pengaruh keberadaannya dalam kawasan. Karena zona hunian terletak di antara zona rekreasi & zona komersial. Maka bagian lantai 1 & 2 di area rusun dirancang untuk memfasilitasi juga zona tersebut dengan difungsikannya menjadi zona komersial & zona fasilitas sosial juga fasilitas umum. Zona komersial di lantai 1 & 2 rusun terdapat banyak toko-toko semipermanen yang menjual olahan makanan ikan dan souvenir-souvenir cantik hasil produksi dari penghuni rusun. Di lantai 2, terdapat toko-toko fashion dan juga workshop bagi pengunjung yang ingin ikut membuat souvenir dari kulit kerang dan hasil laut lainnya. Juga pada lantai 2 terdapat jembatan penghubung antara area pasar ikan lantai 2 dengan area restoran lantai 2. Baru kemudian dari lantai 3 menuju lantai tertinggi menjadi area hunian.





tipe unit hunian di dalam Rusunami Muara Baru






unit hunian tipe 40m2







fasad unit hunian dengan banyaknya bukaan dan balkon pribadi


Terdapat 3 tipe unit hunian yang dibedakan dari luasannya ada yang tipe 34 m2, 40 m2, dan 68 m2. Ketiga tipe ini terdapat di setiap lantai yang dihubungkan oleh sistem sirkulasi vertikal yaitu lift & tangga darurat. Di tiap lantai juga terdapat ruang interaksi antar tetangga yaitu ruang duduk di depan lift, ruang cuci bersama, ruang duduk di bagian tengah, dan kebun bersama di mana para warga dapat menanam tanaman berskala rendah seperti bawang, jahe, dll untuk bumbu dapur, dsb. Untuk mengatasi panasnya Jakarta maka tiap lantai terdapat void untuk sirkulasi udara cross ventilation secara horisontal juga vertikal. Serta tiap hunian diberikan balkon dan bukaan ventilasi yang besar.




struktur dinding Core & Rigid Frame


Dari struktur dan material yang digunakan dalam bangunan sangat dipengaruhi dari fungsi dan pengguna bangunan. Karena hunian ini ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke bawah maka penggunaan material, struktur, dan konstruksi untuk memiliki biaya yang rendah. Maka dari itu struktur yang digunakan adalah core & rigid frame dengan material beton bertulang dan pondasi tiang pancang dengan kedalaman sampai 30 m dari permukaan tanah.


Perancangan Rusunami ini memberikan pemahaman padaku mengenai kehidupan masyarakat mengengah ke bawah. Bagaimana dengan desain yang kami terapkan pada bangunan dapat membuat mereka merasakan perasaan "rumah" meskipun pada collective housing seperti rusun ini. Karena aku tahu bagi masyarakat kita yang sebagian besar masih tinggal di landed housing belum banyak yang bisa beradaptasi dengan hunian yang kolektif, apalagi yang bentuknya tersusun secara vertikal. Karena tetangga bukan hanya sebelah kanan-kiri-depan-belakang saja tetapi juga atas-bawah. Juga dengan cara hidup, di mana untuk hidup di collective housing harus sangat minimalis. Karena terbatasnya area ruang serta tempat penyimpanan dibanding jika hidup di landed housing.


Kesimpulan dari project studio perancangan arsitektur 3 kali ini adalah CAPE *duesh* Hahaha..ngerjain proyek pasti aja cape sih apalagi kurang tidur nya kebangetan. Bahkan sampai saat ini aku sedang memperbaiki waktu tidur dari jam 3 pagi bangun jam 7-8 pagi, jadi ya paling lambat jam 12 malem udah tidur. Semalem sih sudah lebih mendingan jam 1.30 malem udah tidur pules dan bangun jam 9 pagi (hampir 8 jam kan). Semoga mulai membaik saat masuk kuliah lagi.


Lalu juga aku makin kenal banyak anggota studio, cara kerja mereka, dan kepribadian mereka, dan aku juga makin mengenal para dosen. Bersyukur di UPH sistem mengajarnya cukup friendly. Jadi ilmu lebih mudah masuk meskipun kadang kritik suka bikin sakit hati tapi kesannya lebih seperti kritik dari teman yang tahu proses bukan kritik dari atasan yang ga tau apa-apa ujug-ujug menilai seenaknya.


Semoga studio semester depan dapat berjalan dengan baik juga jadi aku bisa segera lulus dan mengejar mimpiku~
Semangat !!





Saturday, January 31, 2015

Hectic Weekend



Akhir minggu kemarin sangat hectic karena mendekati saat DEADLINE Project 1 Studio Perancangan 2. Jadi kalau tampangku super gak oke, maklumi yach ahahaha

Untuk tahu keseruannya
Berikut adalah Vlog-ku di weekend yang lalu,

Sabtu, 24 Januari 2015 TERJEBAK MAKET





Minggu, 25 Januari 2015 PAKAI DRESS TERBALIK ???!






Senin, 26 Januari 2015 SAMA-SAMA BEGADANG

 

Untuk lihat VLOG yang sebelumnya, Mari mampir ke cHannelku : ecHiezo's cHannel

Klik "Like" dan "Subscribe" yaa

Lalu jika ada opini, pendapat, komentar, usulan video yang akan dibuat, salam-salam cantik, dan lain-lain. Kalian bisa kirimkan lewat message di Youtube atau ke emailku di : yessi.oktivia@yahoo.com 

Selamat Menonton~
dan tunggu postingan selanjutnya yaa ^^


Happy Weekend~




Sunday, October 5, 2014

Aparratus of Food : Siomay Bandung (Project 1 - Stupa 1)

Sorry, not posting for a long time.. 
I have been so busy lately, for this project. 

*Tadaaaaaa !!* 



Jadi latar belakang project ini adalah membuat ruang untuk memasak jajanan pasar.
Kata kunci yang kupilih adalah Siomay Bandung. Tentunya karena aku suka banget siomay yang terasa banget rasa ikan tenggirinya. Namun karena dasar dari pembuatan ruangnya adalah dari proses memasak, ternyata aku cukup kewalahan ketika tahu bahwa proses memasak siomay itu tidak semudah memakannya (yaiyalah ya).http://eemoticons.net

Yang kita tahu di penjual siomay itu hanya tahap penyajian saja. Tapi ternyata memasak sampai menjadi adonannya cukup panjang juga. Akhirnya karena proses memasak yang begitu banyak membuatku berpikir untuk membuat ruang memasak yang proses memasaknya harus lancar. Maka dari itu proses yang MENGALIR dengan lancar menjadi konsep utama dalam desain.

Kata MENGALIR ini ku abstraksikan dengan bentuk cairan yang mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah. Lalu juga alirannya ku abstraksikan dengan banyaknya garis horisontal yang terdapat dalam desain.
Material yang digunakan adalah kayu dan besi. daaaaaannnnn
kami pun harus bikin semua itu SENDIRI..http://eemoticons.net

*ya beruntung deh kuliah di Arsitektur UPH selain punya ilmu merancang juga jadi punya ilmu ketukangan*

Aku sudah cukup stress saat tahu harus membuatnya sendiri. Pada saat SDD2 saja tugasku jelek parah, karena aku bener-bener gak bisa menukang. Sudah hopeless banget deh. Bisa Jadi maket juga udah syukur banget.

Awalnya aku pengen pakai jasa tukang aja, tapi desain baru fix seminggu sebelum deadline pengumpulan tugas. Untuk menguruskan pembuatan ke tukang aja butuh waktu belum lagi negosiasi harga dan cara pembuatan. Jadinya harus memanggil tukang-tanpa-keterampilan-ketukangan yaitu BiibopH.
Bersyukur juga saat BiibopH membantuku memotong papan-papan multiplex dan kayu untuk pembuatan tugasku membuat beban tugasku terasa lebih berkurang lah ya.
Akhirnya tugas maket 1:1 ini pun berhasil diselesaikan hanya 4 hari. Dari hari Sabtu sampai hari Selasa.

Hari Jum'at pun saatnya pameran di taman sekitar kampus.
Syarat penting maket kami adalah bisa dibawa dan bisa dirakit di tempat. Dari studio ke tempat perakitan maket butuh 3 kali bolak-balik untuk membawa ini semua. Alasannya adalah papan multiplex ukuran 12mm yang beratnya luar biasa. Aku bersyukur fisikku bisa luar biasa membuat, merakit, dan membawa sendiri maket-maket tersebut. Takjub juga yaa..

Jadi beginilah hasil pamerannya di hari pengumpulan..



Aku dan maket serta peralatan untuk demonstrasi masak siomay di outdoor. LOL.
Kelihatan sekali tampangku cukup lelah membawa turun semua maketku dari studio dan merakitnya langsung di bawah dalam kurang dari 10 menit.

Ajaibnya lagi dari tugas ini bukan hanya itu saja tapi kami juga harus membawa maket-maket ajaib ini ke lahan tempat kami akan merancang bangunan di atasnya seminggu setelah hari pengumpulan. Tempatnya adalah di Aldepos Salaca, Bogor.

Pengalaman cukup menarik di sana dimulai dari nyasar di perjalanan menuju ke sana, lalu harus mengangkat maket bolak-balik ke lahan, dan dengan medan offroad yang luar biasa. Seperti tumbuhan putri malu yang cukup tinggi dengan duri yang tajam, juga jalanan turunan dan tanjakan berbatu, serta melewati sungai sampai airnya membasahi dalam sepatu, tanah berlumpur, dan kondisi lahan yang rumputnya lebat dan tinggi membuat pijakan tak terlihat sehingga harus hati-hati melangkah menghindari jebakan betmen.



Di sana sungguh panas dan tidak ada tempat berteduh.
Untung sebelumnya aku memakai sunblock dengan spf yang tinggi lalu membawa topi dan jaket. Kulit pun terlindungi sehingga tidak kena sunburn.


*view ke luar lahan terpilih, berasa seperti di dekat hutan*



*melewati sungai yang sudah ada jalan buatannya sih tapi tetep aja basah*



*penampakan gunung Salak (???)*



*ahh ada peradaban~~*


Fokus ke lahan adalah untuk mengukur konturnya secara manual. Lalu juga melihat potensi sekitarnya. Baru setelah diukur konturnya kami pun mengambil maket-maket kayu kami. Namun karena maketnya berat dan medan yang harus dilewati tidak mudah maka ini sangatlah menghabiskan waktu.
Sungguh cape fisik sekali di hari itu.
Di tambah kekecewaan karena terbatasnya waktu, maket yang sudah dibawa ke site pun belum sempat dirakit harus dibawa kembali pulang. Kecewa berat. Sangat.
Tapi yasudahlah, akhirnya kami pun harus membawa pulang kembali maket kayu yang kami buat. Namun karena sudah malam, banyak maket yang harus ditinggal karena di daerah site tidak ada penerangan sama sekali sehingga gelap dan demi keamanan kami juga. Akhirnya mungkin maket-maket tersebut menjadi sampah di sana atau bisa diloakan untuk dipergunakan kembali untuk barang lain. 

Beberapa orang yang maketnya tertinggal agak kecewa sih tapi mungkin ya apa boleh buat.
Semoga dengan kejadian seperti ini, dosen pun bisa mempertimbangkan lagi jika ingin membuat acara perkuliahan seperti ini. Rasanya sayang kan cape fisik ditambah kecewa pula banyak maket mahasiswa yang tertinggal.

Apakah pengalamannya sepadan dengan hasilnya ?

Bagiku sih iya, karena tugasku terpilih masuk Archive 2015 dari semua anggota kelompok.

Lalu juga mengerjakan maket bareng BiibopH membuatku makin mencintainya karena aku tahu dia juga bersusah payah dengan keterbatasan keterampilannya menukang untuk membantuku sepenuh hati.
BiibopH is my Best Darling~
I love you so much, my Darling BiibopH~  http://eemoticons.net

Lalu juga ini benar-benar memperat pertemanan di dalam angkatanku. Beda sekali pengalamanku yang dulu dulu. Mungkin karena kami angkatan 2013 adalah yang paling rajin dan sering begadang bersama di studio dari SDD1 saat persiapan pameran atau pun menjelang deadline pengumpulan tugas, dalam pengerjaan tugas meskipun itu tugas masing-masing. Tapi karena dari proses selalu terlihat bersama sehingga siapa pun yang mendapat penilaian lebih bagus akan mendapat apresiasi dari yang lain karena semuanya tahu prosesnya seperti apa. Sehingga persaingan menjadi jarang sekali terlihat. Semuanya di sini terhitung seperti belajar bersama. Bukan saling bersaing satu sama lain hanya agar dibilang hebat.

Manifestasi dari keinginanku yang dulu, sedikit demi sedikit mulai terwujud.http://eemoticons.net

Saat ini kami sudah memasuki Project 2 di mana sudah masuk ke perancangan bentuk bangunan publik dan privat di dalam site terpilih yang sudah kami ukur di Aldepos Salaca, Bogor.
Tunggu tanggal mainnya yaa~http://eemoticons.net



Saturday, August 16, 2014

Designing ShopHouse !!

Sebelum menuju ke tulisan utama, aku ingin mengucapkan selamat dulu ke BiibopH atas seminar yang telah diadakannya Jum'at kemarin~
Congratulation, My Darling BiibopH~ ! 
Selangkah lagi menuju Sarjana Terong~ #plakduesh

Kembali ke topik utama.
Aku akan membahas tugas terakhir yang telah diriku dan Lea, partnerku, kerjakan untuk mata kuliah Struktur dan Konstruksi 1. Tugas yang kami dapatkan adalah merancang Shophouse.

Shophouse adalah sebutan dalam bahasa Inggris untuk Ruko ( Rumah Toko). Bangunan Ruko terkenal berkembang di Asia Tenggara. Apalagi saat ini di kota-kota besar yang minim lahan, tempat tinggal pun bisa sekalian menjadi area komersial. Karena perkembangan ruko di daerah kota Tangerang, Banten, khususnya di daerah Karawaci, Gading Serpong, dan BSD di mana pembangunan perumahan sedang cukup marak yang dilakukan oleh developer. Jadinya dosen Struktur dan Konstruksi 1 memberikan tugas untuk perancangan Ruko atau pun Rukan (Rumah Kantor - konsepnya sama namun fungsinya sebagai kantor).

Ruko yang diminta terdiri dari 3 lantai, lantai 1 sebagai area komersial, lantai 2 sebagai area rumah, dan lantai 3 sebagai area service dan taman. Tentu saja dengan dimintanya Roof Garden, membutuhkan pengetahuan lebih dalam merancang strukturnya karena akan ada beban tanah dan air di lantai 3. Luas lahan satu ruko sekitar 90 meter persegi dengan area sirkulasi di depannya sekitar 2 meter dari depan pintu masuk. Kolom di area sirkulasi pun dapat dipilih antara Kolomnade (sekedar kolom biasa) atau Arkade (terdapat lengkungan di antara kolom-kolom).

Konsep yang dipilih oleh Lea dan aku adalah ketenangan dan kenyamanan. Membuat area komersial dengan ketenangan terdengar tidak biasa sebenarnya. Tapi karena kami memilih toko buku sebagai salah satu area komersialnya, bersyukur jadi nyambung dengan konsepnya. Mendengar buku jadi agak masuk ke sesuatu yang klasik seperti perpustakaan zaman dulu. Akhirnya desain kolom sirkulasi pun dipilih yang Arkade agar sesuai dengan inspirasi desain bangunan klasik.

Seperti yang kuceritakan di postingan sebelumnya bahwa kami mengerjakan maket tugas serta menyelesaikan kebutuhan gambar perancangan kurang dari seminggu. Bersyukur semalam sebelumnya semua tugas sudah selesai.

Inilah foto-foto maket saat baru saja beres dibuat :



Perspektif mata burung untuk melihat keseluruhan maket.





Untuk memperlihatkan balok, kolom, serta ruangan-ruangan yang ada di dalam bangunan yang dirancang. Kami membuat maket Ruko yang salah satu bagian dindingnya memakai plastik mika transparan.






Tampak depan yang terinspirasi dengan sedikit gaya neo klasik seperti kolom Arkade.




Bagian interior dalam bangunan, terdapat lemari buku di lantai 1 yang dipergunakan untuk toko buku. Terdapat taman kecil di bagian depan kamar mandi lantai 1 yang di atasnya terdapat void lantai 2 dan 3. Void tersebut berguna untuk pencahayaan dan sirkulasi udara dalam bangunan.



Bagian kolom lantai 1 sebelah kanan agak miring dan sangat terlihat dari jauh.



Jadinya saat presentasi ketahuan sama dosennya. http://eemoticons.net
Ugh..tapi yasudahlah yang penting kami sudah berusaha.

Sebenarnya saat presentasi pun banyak gambar kami yang diberikan perbaikan oleh dosen. Pastilah jika dosen memperbaiki gambar yang sudah susah-susah dibuat, lalu diperbaikinya pakai pulpen itu rasanya.. 



Tapi kemarin karena sudah terlalu sibuk mengerjakan, kami berfokus untuk mengerjakan tugas sampai selesai. Apa pun yang terjadi kami ikhlaskan. Sehingga kejadian perbaikan tersebut tidak terlalu bikin galau sih, malah senang juga akhirnya tau yang benar seperti apa.

Setelah semuanya selesai, bersyukur jadi bisa tidur dengan nyenyak setelah kurang tidur dan kelelahan karena mengerjakan tugas. Akhirnya bisa lulus Struktur & Konstruksi 1 dengan lumayan baik.

Semoga semester depan di Struktur & Konstruksi 2 akan dapat tugas yang menantang keilmuan dan dapat dikerjakan dengan baik. http://eemoticons.net



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...